Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2015

Mr. Ameen, KKN dan Kesehariannya

Mr. Ameen Ngoh adalah namanya. Dia berasal dari negara Thailand tepatnya dari daerah Pattani , selatan Thailand. Ceritanya Ameen merupakan teman sekelompok saat melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Desa Sindangsari, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Februari lalu.

Ameen sudah lancar berbahasa Indonesia. Tapi, ada beberapa kata yang perlu diucapkan lebih dari satu kali. Pasalnya, dialek Thailand nya masih terbawa sehingga pengucapan katanya kurang jelas. Dia akan mati kutu saat diajak berbicara memakai bahasa sunda halus maupun kasar. Tapi di sinilah terlihat keunikannya.

Berada di tempat baru tentunya dituntut cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar, baik dengan tetangga, anak muda, anak SD, Ketua RT, Ketua RW, kepala dusun dan para perangkat desa. Merekalah gerbang awal yang akan dilalui untuk dapat berinteraksi dengan masyarakat sepenuhnya.

Kehadiran Ameen sangat membantu dalam proses adaptasi. Kalau meminjam bahasa kekinian, ada yang bilang dia itu watados. Tapi menurut saya …

Lagu Koes Ploes dan Kondisi Nelayan Indonesia

Bukan lautan hanya kolam susu// Kail dan jala dapat menghidupimu// Itu adalah sepenggal lirik lagu Koes Plus yang ngetop di era 70-an. Saat pertama kali mendengarnya, yang ada dalam pikiran ini yaitu betapa berlimpah ruahnya kekayaan ngeri ini di sektor perairan.

Hal tersebut sangat relevan dengan letak geografis Indonesia yang diapit oleh dua samudera yang luas; Hindia dan Pasifik. Di dalamnya, banyak terdapat sumber kehidupan, baik dari sumber hayati dan  non hayati. Dari ikan-ikanan sampai ke tumbuh-tumbuhan. Semuanya tumpah ruah di dalam dan atas lautan sehingga nelayan dan petani rumput laut bisa meraup untung dari kekayaan sumber daya alam di sektor kelautan tersebut.

Tapi apa daya. Hal di atas bak jauh panggang daripada api. Jika lirik tersebut ditarik pada konteks kekinian, bukanlah kesejahteraan yang ada, melainkan nestapalah yang dirasakan oleh mereka. Lirik tersebut begitu klise jika dihayati pada kondisi saat ini. Seharusnya mereka benar-benar menikmati hasil dari kekayaan…

Konflik Gajah dengan Manusia, Siapa yang Salah ?

Mungkin kita pernah mendengar cerita tentang gajah yang merusak perkebunan atau pemukiman warga. Biasanya konflik ini terjadi di Pulau Sumatera. Bahkan sampai ada kejadian manusia yang tewas karena diserang gajah. Siapakah yang salah ? Gajah atau manusia ?

Beberapa media massa seringkali memberitakan tentang konflik gajah dengan manusia. Dalam beberapa tulisan, wartawan acap kali menggunakan kalimat “Rombongan gajah merusak perkebunan warga. Atau kawanan gajah menyerang pemukiman warga”. Konteks kalimat tersebut menjadikan gajah sebagai objek yang disalahkan. Memang jika melihat fakta di lapangan, kawanan gajah lah yang mengganggu warga. Namun, jika melihat latar belakangnya, manusia mempunyai andil besar atas polemik tersebut.

Gajah merupakan mamalia yang membutuhkan habitat cukup luas untuk kelangsungan hidupnya. Gajah merupakan hewan penjelajah. Oleh karena itu gajah tidak bisa hidup berdiam diri di suatu tempat. Hutan yang jauh dari aktivitas manusia merupakan tempat hidupnya yang…