Rabu, 14 November 2018

Mengantar Tabloid BOLA Menemui Ajalnya

Medio 2000-an, salah satu kakak saya suka membeli tabloid olahraga GO atau BOLA. Bisanya beli dari loper koran  di pojok sebelah barat Pasar Cigasong, Kab. Majalengka. Loper koran ini merangkap penjual makanan ringan dan rokok.

Saat kakak saya membacanya di rumah, saya suka menguntit di sebelahnya untuk melihat isinya. Selanjutnya dia meminta saya untuk menyisihkan uang jajan supaya bisa urunan untuk membeli tabloid. Saya masih ingat begitu semangatnya menyisihkan uang jajan/bekal sekolah demi membeli tabloid sepak bola. Sejak itu saya suka dengan sepak bola dan media cetak tentang sepak bola.

Saat SMP saya beralih dari tabloid BOLA ke tabloid Soccer. Tentu saja karena faktor bonus posternya haha. Suatu waktu ada tugas kelompok. Saat kerja kelompok di rumah kawan sekelas yang merupakan penggemar Liverpool, doi ternyata berlangganan majalah Bola Vaganza. Melihat tumpukan majalah tentang sepak bola bak mendapat durian runtuh. Saya langsung melahapnya.

Kemudian saya meminjam majalah edisi Manchester United untuk dibawa pulang. Setelah rampung, saya meminjam kembali majalah edisi lainnya, kalau gak salah edisi Cristiano Ronaldo atau Wayne Rooney gitu. Semenjak itulah saya kesengsem sama si 'setan merah'.

Pada fase awal perkuliahan, frekusensi membeli tabloid BOLA menurun drastis. Tapi disaat bersamaan rajin mengirim tulisan ke berbagai media cetak. Tujuannya supaya saya dapat nilai kuliah A dari dosen haha. Tabloid BOLA adalah salah satunya.

Tabloid BOLA mempunyai rubrik Forum Pembaca, rubrik Ola-ole, rubrik Olenas, atau rubrik Oposan. Isi tulisan saya banyak membahas kondisi sepak bola tanah air. Sekian kali mencoba, tidak ada tulisan yang dimuat. Akhirnya niat mengirim tulisan ke tabloid BOLA hanya mengisi waktu luang saja. Tidak lebih dari itu.

Suatu hari orang tua di kampung mengabari bahwa ada kiriman paket dari BOLA berupa kaos dan topi. Saya kaget. Sempat berpikir sejenak, "tulisan yang mana ya?" Biasanya tulisan yang dimuat akan mendapatkan merchandise dari Tabloid BOLA.

Kemudian saya langsung bergegas ke loper koran terdekat untuk menanyakan stok tabloid BOLA edisi terbaru maupun stok lawas yang masih ada. Namun, saya tidak menemukan tulisan itu. Kemudian sempat mencari informasi di internet. Hasilnya nihil. Jadi sampai sekarang saya belum mengetahui tulisan saya yang dimuat tersebut.

Jumat, 26 Oktober 2018 tabloid BOLA pamitan. Memang terasa kurang ajar sih catatan ini. Seolah begitu bersimpati dengan terbitan terakhir tabloid BOLA. Padahal diri sendiri juga turut berkontribusi mengantarkan tabloid BOLA menjemput ajalnya.

Kendati telah tutup buku, tabloid BOLA telah menyajikan karya jurnalistik yang edukatif, menarik, dan menghibur sedari saya belum disunat, sudah merasakan mimpi basah, sampai pahit-manisnya sebagai mahasiswa kost.